Peta penyebaran ajaran Buddha. Agama Buddha mulai berkembang di
India,
yaitu tempat dimana Buddha Gautama mengajarkan ajarannya. Setelah
wafatnya Buddha Gautama, ajaran tersebut tidak lenyap begitu saja,
melainkan disebarkan oleh para pemuka agama sehingga bertahan sampai
sekarang di berbagai belahan dunia, khususnya di
Asia.
Penyebaran di India dan Asia Tengah
Dimulai dari India, tempat dimana Buddha Gautama lahir dan wafat. 100 tahun setelah Buddha mencapai
Nirwana, ajaran Buddha Gautama mulai memudar sehingga para
biksu disana memutuskan untuk mulai melestarikannya agar tetap hidup. Hal pertama yang dilakukan adalah dengan membuat
Dharma atau pengajaran. Di India jugalah tempat dimana mulai terbentuknya aliran
Mahayana dan
Theravada
akibat perselisihan antara kelompok biarawan dan para kaum
tua.Theravada umumnya mengajarkan bahwa tujuan tertinggi adalah menjadi
arahat, sedangkan Mahayana mengajarkan bahwa tujuan yang paling berharga adalah dengan mencapai Kebuddhaan.
Selain melalui kaum biarawan,agama Buddha juga disebarkan oleh raja-raja besar di India seperti
Raja Ashoka.
Ia mengajarkan kepada rakyatnya untuk tidak berpikiran jahat seperti
serakah dan mudah marah. Ia menanamkan nilai-nilai moral, seperti
menghargai kebenaran, cinta kasih dan amal. Ashoka juga mengirim
misionaris Buddha keberbagai negara tetangga, termasuk ke Sri Lanka
dimana mereka diterima baik sehingga Sri Lanka menjadi basis agama
Buddha.
Penyebaran di Asia Timur
Selama abad
3 SM, Raja Asoka mengirimkan misionaris ke barat laut India yaitu
Pakistan dan
Afganistan.
Misi ini mencapai sukses besar karena kawasan ini segera menjadi pusat
pembelajaran agama Buddha yang memiliki banyak biksu terkemuka dan
sarjana. Ketika para pedagang Asia Tengah datang ke wilayah ini untuk
berdagang, mereka belajar tentang Buddhisme dan menerimanya sebagai
agama mereka. Dengan dukungan dari pedagang,
biara gua banyak didirikan di sepanjang rute perdagangan di seluruh Asia Tengah. Pada abad
2 SM, beberapa kota Asia Tengah seperti
Khotan, telah menjadi pusat penting bagi Buddhisme. Melalui
Jalan Sutera inilah, pertama kalinya orang
Tiongkok (sekarang
Cina)
mengenal agama Buddha dari orang-orang di Asia Tengah yang sudah
beragama Buddha. Bentuk awal penyebaran agama Buddha di Cina adalah
dengan adanya penerjemah yang bertugas menerjemahkan teks penting
mengenai ajaran Buddha dari bahasa India ke bahasa Cina kala itu. Selain
itu, juga lahirnya berbagai karya seni dan pahat dimana patung-patung
Buddha dibuat. Bentuk perkembangan lainnya adalah dengan dibangunnya
sekolah ajaran Buddha di Tiongkok yang mencakup
seni,
patung,
arsitektur dan
filsafat waktu itu. Ada pula biarawan Tiongkok yang pergi ke
Semenanjung Korea untuk memperkenalkan agama Buddha kepada kerajaan-kerajaan yang ada di Korea pada waktu itu. Sehingga pada
abad ke-6 dan
abad ke-7, agama Buddha telah berkembang di bawah kerajaan tersebut. Selain di Korea, Buddhisme juga berkembang di kepulauan
Jepang.
Penyebaran di Asia Tenggara
Pada awal era
masehi, orang-orang di berbagai belahan
Asia Tenggara
datang untuk mengetahui ajaran Buddha sebagai hasil dari meningkatnya
hubungan dengan para pedagang India yang datang ke wilayah tersebut
untuk berdagang. Pedagang ini tidak hanya berdagang di Asia Tenggara,
tetapi juga membawa agama mereka dan budaya dengan mereka. Di bawah
pengaruh mereka, orang-orang setempat mulai mengenal agama Buddha, tapi
tetap mempertahankan keyakinan lama dan adat istiadat mereka. Sejak
masuk di
semenanjung Indocina (sekarang bagian Asia Tenggara), Buddhisme mulai masuk di
Birma,
Siam (sekarang
Thailand),
Vietnam,
semenanjung Malaya (sekarang
Malaysia Barat) dan kepulauan
nusantara (sekarang
Indonesia).
Penyebaran di Nusantara
Pada akhir
abad ke-5, seorang biksu Buddha dari India mendarat di sebuah kerajaan di
Pulau Jawa, tepatnya di
Jawa Tengah sekarang. Pada akhir
abad ke-7,
I Tsing, seorang peziarah Buddha dari Tiongkok, berkunjung ke
Pulau Sumatera (kala itu disebut
Swarnabhumi), yang kala itu merupakan bagian dari kerajaan
Sriwijaya. Ia menemukan bahwa Buddhisme diterima secara luas oleh rakyat, dan ibukota Sriwijaya (sekarang
Palembang), merupakan pusat penting untuk pembelajaran Buddhisme (kala itu
Buddha Vajrayana). I Tsing belajar di Sriwijaya selama beberapa waktu sebelum melanjutkan perjalanannya ke India.
Pada pertengahan
abad ke-8, Jawa Tengah berada di bawah kekuasaan raja-raja
Dinasti Syailendra yang merupakan penganut Buddhisme. Mereka membangun berbagai monumen Buddha di Jawa, yang paling terkenal yaitu
Candi Borobudur. Monumen ini selesai di bagian awal
abad ke-9.
Di pertengahan abad ke-9, Sriwijaya berada di puncak kejayaan dalam
kekayaan dan kekuasaan. Pada saat itu, kerajaan Sriwijaya telah
menguasai Pulau Sumatera, Pulau Jawa dan
Semenanjung Malaya.
Akhir zaman kerajaan Hindu-Buddha
Pada akhir
abad ke-13 seiring berkembang pesatnya pengaruh Islam dari
Timur Tengah,
kerajaan-kerajaan Islam mulai berdiri di Sumatera, dan agama Islam
segera menyebar ke Jawa dan Semenanjung Malaya lewat penaklukan dan
penyebaran sistematis oleh sekelompok ulama yang dikenal dengan sebutan
Wali Sanga. Akibatnya Buddhisme mengalami penurunan popularitas dan pada akhir
abad ke-15 Islam adalah agama yang dominan di Nusantara dan Semenanjung Malaya. Buddhisme diperkenalkan kembali ke Nusantara hanya pada
abad ke-19, dengan kedatangan pedagang dan orang-orang
Tionghoa, Srilanka dan imigran Buddhis lainnya.
Candi-Candi Peninggalan Kerajaan Buddha di Nusantara

Informasi lebih lanjut:
Candi
Candi-candi peninggalan agama Buddha di Nusantara kebanyakan terdapat di Jawa dan Sumatera, antara lain:
- Candi Batujaya, stupa bata di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Diduga mulai dibangun pada abad ke-4 M, salah satu bangunan Buddha tertua di Nusantara.
- Candi Kalasan atau Tarabhavanam, candi ini didirikan oleh Rakai Panangkaran pada tahun 778 M untuk memuja Dewi Tara. Candi ini terletak di Yogyakarta.
- Candi Sari, biara bertingkat dua yang terkait dengan candi Kalasan.
- Candi Sewu atau Prasada Vajrasana Manjusrigrha, candi ini terletak di utara dari Candi Prambanan dan menurut Prasasti Manjusrigrha dibangun sekitar tahun 792 M, dan dipersembahkan untuk memuliakan bodhisatwa Manjusri.
- Candi Mendut,
terletak pada satu garis lurus ke arah timur dari Candi Borobudur. Di
dalamnya terdapat tiga arca batu berukuran 3 meter yaitu Buddha Wairocana diapit bodhisatwa Awalokiteswara dan Wajrapani.
- Candi Pawon, candi ini juga terletak pada garis lurus arah timur antara Candi Borobudur dan Candi Mendut.
- Candi Borobudur,
candi ini merupakan candi Buddha terbesar di dunia. Candi Borobudur
dibangun oleh raja-raja Wangsa Sailendra pada abad ke-9 M dan bangunan
candi terdiri atas sepuluh tingkat. Candi Borobudur terletak di
Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
- Candi Plaosan, candi ini terdiri atas dua candi induk kembar, terletak di arah timur Candi Sewu.
- Candi Sojiwan, candi Buddha ini dikaitkan dengan tokoh Rakryan Sanjiwana atau Sri Kahulunnan Pramodhawardhani. Pada bagian kakinya terukir kisah fabel Jataka.
- Candi Banyunibo, candi Buddha terletak dekat kompleks purbakala Ratu Boko.
- Candi Muaro Jambi, kelompok candi Buddha dari bata merah ini terletak di tepi utara sungai Batanghari dekat muara, Kabupaten Muaro Jambi, terkait dengan Kerajaan Malayu di Jambi.
- Candi Muara Takus, candi ini terletak di Kabupaten Kampar, Riau.
- Candi Bahal di dekat Padangsidempuan, Sumatera Utara merupakan bangunan bercorak Buddha.
- Candi Sumberawan, stupa ini terletak di Kabupaten Malang, Jawa Timur, terkait kerajaan Singhasari.
- Candi Brahu, candi dari bahan bata merah di Situs Trowulan, Jawa Timur. Terkait kerajaan Majapahit
- Candi Jabung, candi Buddha berbahan bata merah ini juga terkait kerajaan Majapahit. Terletak dekat Probolinggo, Jawa Timur.
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Agama_Buddha
Belum ada tanggapan untuk "Penyebaran di Asia dan Indonesia"
Post a Comment