”Sabdo Palon adalah seorang ponokawan Prabu
Brawijaya, penasehat spiritual dan pandhita sakti kerajaan Majapahit.
Dari penelusuran secara spiritual, Sabdo Palon itu sejatinya adalah :
Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan
Semeru yang akhirnya moksa di Pura Uluwatu.”
Dari referensi yang saya dapatkan, Dang Hyang Nirartha adalah anak
dari Dang Hyang Asmaranatha, dan cucu dari Mpu Tantular atau Dang Hyang
Angsokanatha (penyusun Kakawin Sutasoma dimana di dalamnya tercantum
”Bhinneka Tunggal Ika”). Danghyang Nirartha adalah seorang pendeta Budha
yang kemudian beralih menjadi pendeta Syiwa. Beliau juga diberi nama
Mpu Dwijendra dan dijuluki Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Beliau juga dikenal
sebagai seorang sastrawan.
Dalam “Dwijendra Tattwa” dikisahkan sebagai berikut :”Pada Masa
Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, tersebutlah seorang Bhagawan yang
bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau dihormati atas pengabdian yang
sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spiritual,
peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan.
Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran Agama Hindu dengan nama ”Dharma
Yatra”. Di Lombok Beliau disebut ”Tuan Semeru” atau guru dari Semeru,
nama sebuah gunung di Jawa Timur.”
Dengan kemampuan supranatural dan mata batinnya, beliau melihat
benih-benih keruntuhan kerajaan Hindu di tanah Jawa. Maksud hati hendak
melerai pihak-pihak yang bertikai, akan tetapi tidak mampu melawan
kehendak Sang Pencipta, ditandai dengan berbagai bencana alam yang
ditengarai turut ambil kontribusi dalam runtuhnya kerajaan Majapahit
(salah satunya adalah bencana alam ”Pagunung Anyar”). Akhirnya beliau
mendapat petunjuk untuk hijrah ke sebuah pulau yang masih di bawah
kekuasaan Majapahit, yaitu Pulau Bali. Sebelum pergi ke Pulau Bali, Dang
Hyang Nirartha hijrah ke Daha (Kediri), lalu ke Pasuruan dan kemudian
ke Blambangan.
Beliau pertama kali tiba di Pulau Bali dari Blambangan sekitar tahun
caka 1411 atau 1489 M ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem
Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali
perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam
manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Dang Hyang
Nirarta dijuluki pula Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai
kemampuan supranatural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum
sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan).
Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang
kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan
diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti
yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig
Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan
kegiatan keagamaan ditingkatkan. Selain itu beliau juga mendorong
penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan
lontar, kidung atau kekawin.
Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim
membimbing umat adalah : Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Ulu watu,
Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa
Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti
Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak
Tedung, dan lain-lain. Akhirnya Dang Hyang Nirartha menghilang gaib
(moksa) di Pura Uluwatu. (Moksa = bersatunya atman dengan Brahman/Sang
Hyang Widhi Wasa, meninggal dunia tanpa meninggalkan jasad).
Setelah mengungkapkan bahwa Sabdo Palon sejatinya adalah Dang Hyang
Nirartha, lalu bapak Budi Marhaen memberikan kepada saya 10 (sepuluh)
pesan yang diperoleh dari kegaiban dari beliau Dang Hyang Nirartha sbb:
1. Tuwi ada ucaping haji, utama ngwangun tlaga, satus reka
saliunnya, kasor ento utamannya, ring sang ngangun yadnya pisan, kasor
buin yadnyane satus, baan suputra satunggal.
- Ada sebenarnya ucapan ilmu pengetahuan, utama orang yang membangun
telaga, banyaknya seratus, kalah keutamaannya itu, oleh orang yang
melakukan korban suci sekali, korban suci yang seratus ini, kalah oleh
anak baik seorang.
2. Bapa mituduhin cening, tingkahe menadi pyanak, eda bani ring
kawitan, sang sampun kaucap garwa, telu ne maadan garwa, guru reka, guru
prabhu, guru tapak tui timpalnya.
- Ayahanda memberitahumu anakku, tata cara menjadi anak, jangan
durhaka pada leluhur, orang yang disebut guru, tiga banyaknya yang
disebut guru, guru reka, guru prabhu, dan guru tapak (yang mengajar)
itu.
3. Melah pelapanin mamunyi, ring ida dane samian, wangsane tong
kaletehan, tong ada ngupet manemah, melah alepe majalan, batise twara
katanjung, bacin tuara bakat ingsak.
- Lebih baik hati-hati dalam berbicara, kepada semua orang, tak akan
ternoda keturunannya, tak ada yang akan mencaci maki, lebih baik
hati-hati dalam berjalan, sebab kaki tak akan tersandung, dan tidak akan
menginjak kotoran.
4. Uli jani jwa kardinin, ajak dadwa nah gawenang, patut tingkahe
buatang, tingkahe mangelah mata, gunannya anggon malihat, mamedasin ane
patut, da jua ulah malihat.
- Mulai sekarang lakukan, lakukanlah berdua, patut utamakan tingkah
laku yang benar, seperti menggunakan mata, gunanya untuk melihat,
memperhatikan tingkah laku yang benar, jangan hanya sekedar melihat.
5. Tingkahe mangelah kuping, tuah anggon maningehang, ningehang
raose melah, resepang pejang di manah, da pati dingeh-dingehang,
kranannya mangelah cunguh, anggon ngadek twah gunanya.
- Kegunaan punya telinga, sebenarnya untuk mendengar, mendengar
kata-kata yang benar, camkan dan simpan dalam hati, jangan semua hal
didengarkan.
6. Nanging da pati adekin, mangulah maan madiman, patutang jua
agrasayang, apang bisa jwa ningkahang, gunan bibih twah mangucap, de
mangucap pati kacuh, ne patut jwa ucapang.
- Jangan segalanya dicium, sok baru dapat mencium, baik-baiklah
caranya merasakan, agar bisa melaksanakannya, kegunaan mulut untuk
berbicara, jangan berbicara sembarangan, hal yang benar hendaknya
diucapkan.
7. Ngelah lima da ja gudip, apikin jua nyemakang, apang patute
bakatang, wyadin batise tindakang, yatnain twah nyalanang, eda jwa
mangulah laku, katanjung bena nahanang.
- Memiliki tangan jangan usil, hati-hati menggunakan, agar selalu
mendapat kebenaran, begitu pula dalam melangkahkan kaki, hati-hatilah
melangkahkannya, bila kesandung pasti kita yang menahan (menderita) nya.
8. Awake patut gawenin, apang manggih karahaywan, da maren
ngertiang awak, waluya matetanduran, tingkahe ngardinin awak, yen anteng
twi manandur, joh pare twara mupuang.
- Kebenaran hendaknya diperbuat, agar menemukan keselamatan, jangan
henti-hentinya berbuat baik, ibaratnya bagai bercocok tanam, tata cara
dalam bertingkah laku, kalau rajin menanam, tak mungkin tidak akan
berhasil.
9. Tingkah ne melah pilihin, buka anake ka pasar, maidep
matetumbasan, masih ya nu mamilihin, twara nyak meli ne rusak, twah ne
melah tumbas ipun, patuh ring ma mwatang tingkah.
- Pilihlah perbuatan yang baik, seperti orang ke pasar, bermaksud
hendak berbelanja, juga masih memilih, tidak mau membeli yang rusak,
pasti yang baik dibelinya, sama halnya dengan memilih tingkah laku.
10. Tingkah ne melah pilihin, da manganggoang tingkah rusak,
saluire kaucap rusak, wantah nista ya ajinnya, buine tong kanggoang
anak, kija aba tuara laku, keto cening sujatinnya.
- Pilihlah tingkah laku yang baik, jangan mau memakai tingkah laku
yang jahat, betul-betul hina nilainya, ditambah lagi tiada disukai
masyarakat, kemanapun dibawa tak akan laku, begitulah sebenarnya anakku.
-
-
sumber : https://sabdopalon.wordpress.com/menelisik-misteri-sabdo-palon/
Belum ada tanggapan untuk "Siapa Sejatinya ”Sabdo Palon Noyo Genggong” ?"
Post a Comment